Saturday, December 15, 2012

Ibadah dalam Islam..petikan sebuah khutbah jumaat


Jamaah Jum’at yang berbahagia …

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan makhluk ini sia-sia dan tidak meninggalkan mereka tanpa guna. Allah tidak menciptakan manusia secara sia-sia dan batil, akan tetapi Allah menciptakannya karena suatu hikmah yang agung. Allah ‘‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk ke dalam neraka.” (Shaad: 27)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

{وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ* مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ }

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Ad-Dukhan: 38-39)
Kemudian Allah ‘‘Azza wa Jalla menjelaskan tujuan yang hak dari penciptaan makhluk. Allah berfirman,

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariat: 56)

Jamaah kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!..
Hikmah dari penciptaan makhkluk ini adalah memerintahkan beribadah dan melaksanakan semua kewajiban. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul sebagai pemberi kabar gembira sekaligus peringatan untuk mengenalkan makhluk dengan Tuhan mereka, serta menjelaskan tujuan penciptaannya. Siapa yang menerima, dia akan mendapatkan petunjuk. dan, siapa yang menolak, maka ia tetap akan kembali kepada-Nya, karena hujjah Allah telah tegak atas hamba-hamba-Nya.

Ibadah mempunyai pengertian yang umum. Pokok dan landasan ibadah ini adalah keikhlasan kepada Allah ‘‘Azza wa Jalla, mentauhidkan Allah dalam setiap ibadah serta menghadapkan hati kita kepada Allah disertai dengan kecintaan, rasa takut, dan pengharapan. Setiap ibadah harus diserahkan kepada Allah, baik itu shalat, doa, kebutuhan, rasa takut, pengharapan yang sempurna, dan keyakinan yang kokoh hanya kepada Allah. Tidak ada pengagungan di dalam hati kita kecuali hanya kepada Allah. Karena, pengagungan yang sesungguhnya itu hanya hak Allah saja.

Pemahaman ibadah dalam Islam merupakan pemahaman yang umum, universal, dan mencakup semua jenis kebaikan. Baik itu untuk urusan agama maupun urusan dunia. Maka hakikat ibadah adalah nama untuk semua bentuk perkataan, perbuatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah ‘‘Azza wa Jalla.....di dunia ini seorang Muslim, pasti mengetahui bahwa ibadah yang benar itu hanya ibadah kepada Allah. Dia harus berusaha untuk merealisasikan ibadah tersebut sehingga menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Kemuliaan dan keutamaannya ditentukan keberadaannya sebagai hamba Allah yang sebenar-benarnya, dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tidak melanggar larangannya serta menjalankan perintahnya.

Tanda kasih sayang dan karunia Allah kepada kita adalah dijadikannya ibadah itu beraneka ragam serta bermacam-macam. Ada yang disebut ibadah hati, yaitu ibadah yang dilaksanakan dengan hati seperti keikhlasan kepada Allah, dan menjalankan semua ibadah ditujukan kepada Allah ‘‘Azza wa Jalla. Ada juga yang disebut dengan ibadah badan, seperti shalat lima waktu. Ada juga yang disebut dengan ibadah harta, seperti zakat yang dikeluarkan dengan penuh keimanan dan keridhaan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata. Ada juga ibadah yang di dalamnya ada menahan hawa nafsu, menghindari perkara-perkara yang disukai sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, seperti ibadah puasa. Ada juga ibadah yang harus dengan mengorbankan harta dan raga seperti haji, ibadah yang menggabungkan harta dan raga. Serta jihad di jalan Allah yang merupakan ibadah yang paling utama.

Kemudian Allah ‘‘Azza wa Jalla menambah karunia-Nya kepada kita dengan mensyariatkan
ibadah-ibadah sunnah, seperti shalat sunnah, sedekah, puasa sunnah, haji dan juga umrah. Semua itu akan menguatkan iman, mengangkat derajat, dan menambah kebaikan kita. Milik Allah-lah segala kemulian dan karunia kepada kita. Kita tidak dapat menghitung pujian atas-Nya sebagaimana Dia memuji atas diri-Nya sendiri.

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!..

Allah yang Mahabijaksana menetapkan dua syarat untuk diterimanya ibadah seseorang. Apabila salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka ibadah tersebut akan rusak sehingga menjadi seperti debu yang berterbangan.

Syarat pertama, ibadah tersebut dilaksanakan dengan penuh keikhlasan kepada Allah dan bersih dari semua bentuk riya’ (ingin dilihat orang) dan sum’ah (ingin didengar orang) . Syarat kedua, ibadah tersebut harus sesuai dengan syariat Allah dan sunnah RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada tambahan dan bid’ah di dalamnya. Karena Rasulullah telah menyampaikannya secara jelas dan nyata, tidak satupun dari pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya kecuali telah beliau jelaskan. Maka yang hak dan yang benar adalah yang sesuai dengan ajaran dan sunnah beliau, dan yang batil serta sesat adalah yang menyimpang petunjuk beliau seperti yang dibuat-buat oleh sekelompok manusia yang mengikuti hawa nafsu mereka.

Wahai kaum Muslimin ketahuilah, setiap perbuatan apabila diniatkan untuk mengharap ridha Allah dan untuk mendekatan diri kepada Allah, maka itu adalah ibadah karena Allah. Seorang Muslim, beribadah kepada Allah dengan berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin ‘Amru bin Ash Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta izin ikut berjihad. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, ‘Apakah orangtuamu masih hidup? Laki-laki tersebut menjawab, ‘Masih’. Lalu Nabi bersabda, “Berbaktilah kepada keduanya kemudian berjihad.” (HR. Bukhari,, Muslim,Abu Dawud, dan Nasa’i) Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam menjadikan berbakti kepada kedua orangtua seperti berjihad di medan perang.

Wahai kaum Muslimin, usaha kita untuk menyambung silaturahim merupakan ibadah. Infak yang kita berikan kepada anak-anak merupakan ibadah kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, “Sesungguhnya tidaklah nafkah yang diniatkan untuk mencari keridhaan Allah kecuali akan diberi balasan, sampai saat kamu berhubungan intim dengan istrimu (juga diberi balasan) ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjalankan usaha perdagangan jual beli dan roda bisnis yang lain, Pernikahan yang bertujuan untuk menjaga diri, kemaluan dan menahan pandangan, menjauhkan diri dari semua perbuatan yang hina dan yang diharamkan, jika diniatkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah maka akan diberi pahala atas niat yang mulia tersebut. Karenanya, sebagian ulama salaf berkata tentang tafsir hakikat takwa, “Takwa itu adalah beramal dengan penuh ketaatan kepada Allah di atas cahaya-Nya,serta mengharapkan dari itu semua balasan dari Allah, dan meninggalkan maksiat karena Allah di atas cahaya-Nya dan takut dari siksa-Nya.” (Thalaq bin Habib Rahimahullahdisarikan oleh Ibnu Al-Mubarak dalam Kitab Az-Zuhd, hal.1343 dan oleh Hanad dalam Az-Zuhd, hal. 522)

Inilah syariat Islam yang mengajak kaum Muslimin kepada kebaikan. Allah menjadikan kebaikan itu bermacam-macam yang tujuannya untuk menambah kebaikan dan mengangkat derajat serta mempersempit ruang kejelekan dan kesalahan.


Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!…

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan tentang pahala tasbih, takbir dan tahmid,Nabi bersabda, “dan bersetubuh dengan istri merupakan sedekah. Para sahabat bertanya,‘Ya Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapat pahala?’ Nabi menjawab, ‘Bukankah kalau dia menyalurkan hasrat biologisnya pada yang haram, dia berdosa? Maka demikian juga kalau dia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala.”

Lihatlah kenikmatan dan kelezatan balasan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Ini merupakan bagian dari nikmat Allah kepada seorang Muslim yang bisa mengubah sesuatu yang bersifat mubah menjadi ibadah dan ketaatan kepada Rabb semesta alam. Bahkan, tidur dan istirahatnya seorang hamba yang diniatkan untuk bertakwa kepada Allah di atas kebaikan juga meruapakan ibadah

 Aisyah Radhiyallahu Anha berkata,“Dia (Nabi) berpuasa sampai kami mengatakan dia tidak pernah berbuka dan dia itu berbuka sampai kami mengatakan dia tidak pernah berpuasa.
” (HR. Bukhari dan Muslim, dalam Bab Puasa)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang paling dicintai itu adalah amalan yang konsisten walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim dari aisyah). Amalan yang sedikit tapi dikerjakan tiap hari itu lebih baik dari amalan yang banyak namun tidak konsisten. Seorang Muslim, mempunyai bermacam-macam ibadah dan dia bisa menjalankan sesuai dengan kemampuannya. Kebaikan juga beraneka ragam. Inilah yang dituntut dari seorang Muslim sehingga hubungannya dengan Allah, agama, dan Nabinya menjadi lebih kuat.Seorang hamba wajib untuk menjalankan ibadah kepada Allah. Ibadah merupakan tanda kemuliaan,mahkota kebaikan, dan pada hakikatnya lebih mahal dari semua perhiasan dunia. Ketika ibadahmerupakan amalan yang paling agung dan mulia, maka NabiShallallahu ‘alaihi wasallam dipanggil dengan panggilan yang paling agung, yaitu panggilan peribadatan kepada Allah. Allah berfirman,

{وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا}
“Dan bahwa tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat),hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (Al-Jinn: 19)

Inilah tanda kemuliaan yang seyogianya kita bangga membawanya di dalam peribadatan kita kepada Allah. Karena dalam ibadah tersebut terdapat kemuliaan, kebahagiaan serta kebaikan dunia dan akhirat. Maka orang-orang yang mengklaim mengangkat kemuliaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan derajatnya secara berlebih-lebihan bahkan sampai menuhankannya, pada hakikatnya mereka telah salah. Karena Nabi pun dipanggil oleh Allah dengan panggilan peribadatan kepada Allah.

أقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لكم و لسائر المسلمين و المسلمات من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله على إحسانه و الشكر له على توفيقه و امتنانه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه و أشهد أن محمدا عبده و رسوله الداعي إلى رضوانه. اللهم فصل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.
Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala ….

Ibadah merupakan satu nikmat yang tidak bisa dirasakan oleh orang yang diharamkan darinya. Coba tanyakan kepada para materialis dan orang-orang yang merasakan kenikmatan dunia,mempunyai harta yang berlimpah hingga bisa merasakan apa yang mereka rasakan, menaiki apa yang bisa mereka menaiki, dan memakai apa yang ingin mereka pakai serta merasakan semua kenikmatan dunia ini. Apakah mereka mendapatkan ketenangan batin tanpa mengiringinya dengan beribadah kepada Allah?

Kemudian apa yang akan terjadi bila iman tidak tertanam di dalam lubuk hati manusia? Siapakah orang yang dapat hidup tanpa iman? Siapakah orang yang dapat hidup tanpa akidah? dan siapakah orang yang bisa memahami hakikat hidup tanpa beribadah kepada Allah? Tentu mereka seperti binatang liar yang hidup di hutan atau binatang ternak yang hidup di dalam kandangnya. Sementara jika mereka beriman dan bertauhid secara benar, mereka akan merasakan manisnya iman dan berpegang teguh dengan ajaran Islam. Mereka mengaplikasikan aturan yang diakui olehseluruh manusia. Tidak ada aturan yang lebih baik dari aturan yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Untuk itu, pantas kita ketahui bahwa orang-orang yang terpedaya serta terpengaruh oleh musuh-musuh Islam dan meminta agar umat Islam jauh dari agama mereka, sesungguhnya dia itu musuh akidah dan agama.

Pada hakikatnya mereka menginginkan kecelakaan bagi kita dan iri dalam keimanan. Umat Islamtidak akan mendapatkan kemulian, pertolongan, taufik, kebahagiaan, dan juga petunjuk kecuali jika mereka merealisasikan Islam. Inilah kenyataan yang datang dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak ada keraguan tentang keimanan kita di dalam hati, meskipun hanya sebesar biji zarrah (atom). Bahkan kita yakin dan percaya bahwa keimanan pada Allah akan mengantarkan kita pada kemuliaan. Akan tetapi, kita takut kalau generasi-generasi Muslimin terpengaruh oleh slogan-slogan dunia yang membuai, yang disampaikan lewat tulisan, televisi, radio atau media masaa lainnya. Ada juga sebagian lain yang iri kepada Islam meskipun mereka memakai atribut Islam. Ada juga yang silau oleh musuh-musuh Islam dan ada juga yang hatinya telah teracuni oleh slogan-slogan itu. Kepada Allah lah kita meminta perlindungan dari hal itu semua.

Semoga Allah menguatkan kita semua dalam ketaatan dan memberi hidayah kepada mereka.Karena nikmatnya hidayah itu tidak dapat dirasakan oleh orang yang tidak mendapatkannya,yaitu orang-orang yang pada hari ini diseru untuk kembali kepada Islam, orang-orang yang pernah mencoba semua kejelekan, fitnah dan kehinaan, dan telah merasakan segala kenikmatan dunia dan menuruti hawa nafsu mereka sepuasnya. Kemudian apa yang terjadi? Mereka tentu akan merasakan  kehampaan dan kekurangan dalam hidup ini. Kesedihan, kegelisahan, kebimbangan, dan makin banyaknya dokter jiwa tidak akan terjadi kecuali karena lemahnya iman dan keyakinan serta tidak terealisasikannya ibadah dalam kehidupan manusia.

Disela-sela penjelasan tentang makna ibadah dan cakupan maknanya, maka menjadi jelas bagi kita akan penyimpangan orang-orang yang menyimpang dari makna ibadah sesungguhnya. Mereka itu terbagi kepada tiga kelompok:

Kelompok pertama, mereka yang memahami ibadah secara sempit dan parsial. Mereka menyangka ibadah itu tidak lebih dari ibadah-ibadah yang dikenal secara umum saja seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Ketika di masjid mereka beribadah kepada Allah, dan ketika keluar masjid mereka berinteraksi dengan riba, berzina, meminum khamar, durhaka kepada orang tua, berprilaku buruk kepada teman-teman sekerja, istri dan anaknya juga tidak menutup aurat. di dalam masjid dia bersama Allah dari satu sisi, dan di luar masjid dia bersama Allah dan orang lain dari sisi yang lain. Mereka mau menjalankan firman Allah,“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa” (Al-Baqarah: 183), namun tidak mau menjalankan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qish’alahissalam”(Al-Baqarah: 178)

Kelompok kedua, mereka yang memalingkan ibadah kepada selain Allah. Mereka Beribadah
kepada selain Allah, menyembelih kepada selain Allah, bersumpah dengan selain Allah, dan tawaf juga bukan di Ka’bah dan disertai pengagungan kepada selain Allah, menyerahkan nazar kepada selain Allah, minta tolong kepada selain Allah, menyerahkan urusan bukan kepada selain Allah dan bertawakkal kepada selain Allah. Mereka lebih percaya dan yakin kepada umat manusia dari pada pencipta langit dan bumi. Bahkan ada yang berkata, “Apabila Anda mengalami masalah, maka minta tolonglah kepada pemilik kuburan ini.” Ada juga yang berkata, “Kami percaya dan yakin bahwa alam semesta mempunyai poros dan pasak-pasak yang mengatur dan menjalankan alam ini secara natural.”

Kelompok ketiga, mereka yang beribadah kepada Allah dan mengharapkan ridha-Nya, keikhlasannya tidak perlu diragukan lagi, namun ibadahnya kepada Allah tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka beribadah tidak sesuai dengan sunnah, karena itu ibadahnyaakan tertolak langsung dan tidak diterima oleh Allah. Allah berfirman,

{ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا}

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amalyang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(Al-Kahfi: 110)

Dari sini jelas bahwa ibadah manusia kepada Allah dan mengerjakan kewajibannya tidak dibatasi oleh suatu batasan, tidak pula oleh tujuan. Tidak ada yang menghalangi dari ibadah dan ketaatan serta mengerjakan semua perintah Allah kecuali kematian, yaitu meninggalkan dunia yang fana ini.

Pada hakikatnya kematian itu merupakan hal yang berat bagi jiwa manusia dan pada fitrahnya mereka tidak menginginkannya.

Friday, September 7, 2012

Hanya kerana Allah

Titian istiqamah itu bukan mudah diharungi. Walaupun luas perjalanannya hanya sekangkang kera tapi pandangan kita menjadi kabur tatkala singgah di pertengahan jalan. Objektif dan niat itu sudah sudah ditetapkan namun dek kerana sekatan-sekatan yang menggoda, kita tewas tanpa sempat mencuba.

Kondisi fizikal yang dikuasai nafsu seringkali dapat menewaskan kehendak fitrah nurani di jiwa ibarat memecahkan kacang, sungguh mudah. Sedangkan yang dikejar itu baik, mengapa diuji hingga sebegini rupa?

Begitu halnya yang dapat dititipkan dalam mukadimah di atas tentang istiqamah. Suatu proses didikan hati untuk berikhlas, melibatkan lambakan perasaan yang tiada penghujung. Mendepani hiba, sengsara, derita, sedih dan kecewa semata-semata untuk menggapai keikhlasan dalam beramal untuk Tuhan Yang Esa, Allah Yang Murah dengan pemberian-Nya. Hanya Mukmin yang betul-betul bertakwa akan berjaya memilikinya. Beruntunglah bagi mereka.

Bagaimana dengan kita?

Ikhlas itu membawa manusia menyelusuri jalan hidayah. Destinasi yang dituju penuh dengan limpahan kebenaran hidup. Di situ segala kekusutan dan permasalahan akan terungkai dengan taufik yang dibekal oleh kemantapan iman. Namun hendak mengecapnya cukup payah, kita mendepani keremukan perasaan, mungkin kerana rasa tidak dihargai, tidak dimengerti mahupun dipinggir dan disisihkan. Maka kita susah untuk ikhlas kerana itu ikhlas itu bermaksud beramal semata-mata kerana Allah.

Manusia harus akui, kita sering cuba menarik perhatian orang lain tumpu pada kita. Mengakui kebolehan ataupun bakat yang kita ada. Menjadi orang yang dikagumi dan disanjungi mereka. Betul tak? Ya. Kita sering mengharapkan pandangan tinggi daripada mereka. Kata-kata pujian mereka. Malangnya bukan selalu kehendak itu akan dipenuhi. Acap kali simptom ini mengakibatkan kekecewaan dan derita yang berpanjangan. Kerana apa?

Andai kita mengharapkan kasih manusia mungkin saban tahun ia berubah menjadi benci. Kalau kita mencari kecintaan daripada manusia mungkin cinta tidak terbalas. Sekiranya kita mengharapkan penghargaan daripada manusia mungkin siapa jamin ia dapat bertahan lama.Akhirnya kita yang menjadi tidak keruan. Jangan salahkan sesiapa derita kekecewaan yang kita dapat kerana kita yang mencari nahas. Mengapa cari yang tidak kekal sedangkan Allah itu ada?

Kerana itu pentingnya ikhlas yang dianjurkan Islam. Suatu pekerjaan dan amalan bersandarkan semata-mata mengharapkan perhatian, rahmat, pertolongan, kebahagian dan keredhaan daripada Allah! Itulah ikhlas. Mana mungkin Allah membiarkan hamba-hamba-Nya bersendirian.



Limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya sentiasa di sisi cuma jarang manusia sedari. Kehidupan itu juga satu lambang daripada kasih sayang-Nya. Walaupun beronak duri dan berliku-liku tapi alhamdulillah kita diberi satu kehidupan untuk mengecap kehidupan yang lebih baik di akhirat sana. Cuma perlukan sedikit usaha dan tekad. Sedihnya banyak yang menyesal diberi kehidupan hingga sanggup mati daripada hidup. Na'uzubillah min zalik...

Maka bulatkan hati hanya untuk Allah. Kita telah kufur apabila terasa berat untuk menerima cubaan yang dihidangkan oleh Allah ini dalam kehidupan. Kerana apa? Kerana sungguh jelas manusia yang suka merungut dengan kehidupannya itu melebihkan cintanya kepada dunia berbanding cinta kepada penciptanya sendiri. Itulah ciri-ciri orang munafik.

Kesimpulannya, sentiasalah mengkoreksi diri dan bermuhasabah. Siapalah kita untuk meminta yang bukan hak kita. Bersyukurlah dengan segala yang ada dan ikhlaskan diri untuk menerimanya takdir yang telah tertulis.

Wallahu Ta'ala A'lam

- Artikel iluvislam.com

Thursday, August 30, 2012

Puasa ganti, sunat dan Syawal...oleh Ustaz Zaharuddin


Puasa sunat Syawal sememangnya amat popular di kalangan masyarakat kita hari ini. Dikesempatan ini saya suka menasihatkan semua yang ingin mengamalkan puasa sunat ini agar berhati-hati dari tipu daya syaitan yang kerap berjaya menjadikan seseorang individu yang berpuasa itu bermegah dan riya' dengan amalannya.
" kau , dah hari ker berapa dah?"
"aku dah 5 hari dah ni"
"esok aku raya (sunat syawal)"
Ini adalah antara kata-kata yang kerap didengari di bulan syawal ini.
Ia menjadi seolah-olah satu budaya untuk berlumba menamatkan puasa enam. Ia agak terpuji tetapi ia dicemari oleh habahan-hebahan yang dibuat tentang bilangan hari puasanya bertujuan melihat 'sapa lebih hebat?'.
Amat dibimbangi, tindakan ini bakal menghilangkan seluruh pahala puasa sunatnya. Kerana ia boleh menjadikan seseorang merasa riya, serta memperdengarkan amalan masing-masing yang sepatutnya di sembunyikan khas untuk Allah.
Ziarah & Puasa Sunat
Saya tidak nafikan ada yang terpaksa memberitahu apabila ada rakan yang ajak makan dan menziarahi rumah rakan. Tatkala itu, ia tidaklah terkeji dan masing-masing bertanggung jawab menjaga niat dan hati masing-masing agar tidak timbul perasaan tersebut.
Puasa sunat ini juga tidak sewajarnya menjadi penghalang menerima jemputan rakan-rakan yang membuat rumah terbuka.
Isu Keutamaan Antara Sunat Syawal & Qadha
Selain itu, satu isu yang kerap ditimbulkan berkenaan hal ini adalah tentang penggabungannya dengan puasa ganti ramadhan dan puasa yang mana satu lebih perlu diutamakan.
Jika ada yang bertanya manakah yang lebih baik di antara puasa sunat syawwal dan puasa qadha?. Jawapannya sudah tentu adalah puasa Qadha. Ini terbukti dari hadis Qudsi yang sohih
وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه
Ertinya : "..dan tidaklah hampir kepadaku seorang hambaKu dengan apa juapun, maka yang lebih ku sukai adalah mereka melaksanakan amalan fardhu/wajib ke atas mereka, dan sentiasalah mereka ingin menghampirkan diri mereka kepadaKu dengan mengerjakan amalan sunat sehinggalah aku kasih kepadanya..." (Riwayat Al-Bukhari, no 6021)
Hadis tadi sebagai asas keutamaan, walau bagaimanapun dari sudut praktikal jawapannya mungkin berbeza menurut keadaan diri seseorang.
Maksudnya begini, jika seseorang itu perlu Qadha puasanya selama 30, berpuluh atau berbelas hari (kerana nifas atau haid yang lama di bulan Ramadan sebagai contoh) dan tubuhnya juga sihat dan di yakini masih kuat. Eloklah ia mengerjakan puasa sunat Syawwal terlebih dahulu di ketika itu . Ini adalah kerana waktu sunnat puasa Syawwal yang singkat berbanding Qadha (sepanjang tahun).
Bagaimanapun harus di ingat, walaupun waktu bagi puasa Qadha adalah panjang, kita tetap tidak pasti adakah kita mampu sampai ke tarikh itu atau ajal menjelang dahulu.
Seseorang yang mati sebelum mengganti puasa Ramadannya tetapi sudah berpuasa sunat Syawwal akan pasti bermasalah kerana ia dikira masih berhutang dengan Allah SWT.
Bagaimanapun seseorang yang mati setelah berjaya menggantikan puasanya tetapi tidak sempat berpuasa sunat Syawwal, pastinya tiada sebarang masalah pun, malah mungkin ia juga mungkin boleh mendapat pahala sunat syawal itu sekali. Berdasarkan sabda Nabi SAW
إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة ومن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له سيئة واحدة
Ertinya " ... barangsiapa yang beringinan melakukan kebaikan tetapi tidak melakukannya, telah di tuliskan oleh Allah baginya pahala penuh, maka jika ia beringinan dan kemudian melakukannya, di tuliskan 10 pahala sehingga 700 kali ganda.." ( Riwayat Al-Bukhari, no 6010)
Kita harus memahami bahawa darjat puasa Qadha adalah lebih tinggi dan tanggungjawab bagi menunaikannya adalah jauh lebih besar dari sunat Syawwal, ini kerana puasa qadha adalah puasa wajib dan merupakan ‘hutang' ibadah dengan Allah berbanding puasa syawwal yang hanyalah sebagai tambahan pahala.
Isu Gabung Sunat & Qadha
Isu menggabungkan puasa qadha dan syawal sememangnya amat popular, pandangan ringkas saya adalah seperti berikut :-
Tidak elok untuk menggabungkan kedua-duanya bagi mereka yang mampu (dari sudut kesihatan tubuh dan lain-lain) untuk memisahkannya. Ini kerana sepengetahuan saya tiada dalil yang specifik membuktikan Nabi SAW pernah melakukannya atau menganjurkan kepada para sahabat untuk menggabungkannya.
Apabila Nabi, sahabat dan salaf soleh tidak melakukannya maka pastinya ia bukanlah amalan yang terpilih dan terbaik kerana pilihan Nabi SAW dan para sahabat selamanya adalah yang terbaik.
Malah terdapat juga hujjah-hujjah yang menyebabkan pandangan yang yang mengharuskan penggabungan ‘qadha dan ganti' itu dipersoalkan, iaitu :-
1. Jika seseorang mengatakan boleh gabung puasa qadha (yang wajib) dengan puasa syawwal (yang sunat) maka sudah tentu selepas ini timbul pula individu yang cuba menggabungkan solat wajib dengan solat sunat, seperti gabungan solat isyak dengan terawih, atau subuh dengan ‘tahiyyatul masjid' atau dengan solat sunat fajar, atau solat jumaat dengan solat sunat ‘tahiyyatul masjid'. Maka ini pasti menyebabkan masalah lain timbul dalam ibadah wajib termasuk rekaan-rekaan pelik seperti solat fardhu subuh campur istikharah dan lain-lain.
2. Menurut Prof. Dr Syeikh Abd Malik as-Sa'dy (ex-Lajnah Fatwa Iraq) dan Prof Dr Mohd ‘Uqlah el-Ibrahim (Jordan) mereka berpendapat bahawa amalan wajib tidak boleh digabungkan dengan apa-apa amalan wajib atau sunat lain, kerana amalan wajib memerlukan tumpuan khusus yang tidak berbelah bahagi semasa pelaksanaannya dan ia perlu bagi mengangkat tuntutan kewajibannya. Justeru, tindakan menggabungkan ini pasti mengurangkan kesempurnaan hamba dalam menunaikan tuntutan wajib mereka. Wallahu a'lam.
3. Tindakan A'isyah r.a yang melewatkan Qadha pula boleh di jadikan hujjah bahawa beliau mengasingkan kedua-dua puasa Qadha dan Syawwal. Maka inilah yang terpilih sepatutnya. (tidak gabungkan kerana Aisyah r.a tidak menggabungkannya) . Aisyah menyebut :
كأن يكون عليّ الصيام من شهر رمضان فما أقضيه حتى يجئ شعبان
Ertinya : Kewajiban ke atasku untuk puasa (Qadha) dari puasa Ramdhan, tidaklah aku menggantinya sehingga datang sya'ban" ( Riwayat Muslim, no 101)
4. Amalan wajib (qadha) memerlukan niat yang ‘jazam' (tepat dan pasti) maka tindakan mengabungkan ia dengan niat puasa sunat mungkin boleh merosakkannya kepastiannya. Kerana itulah ulama yang mengizinkannya mencadangkan agar diniat puasa qadha sahaja, adapun syawwal itu dipendam sahaja dengan harapan Allah menerimanya.
Bagaimanapun, ulama yang mencadangkan ini jelas menyatakan bahawa tindakan menggabungkannya tetap mengurangkan pahala sunat syawwal ini kerana tidak diniat dan tidak dilakukan sepenuhnya (Hasyiah As-Syarqawi ‘ala al-Tahrir, Syeikh Zakaria Al-Ansary, 1/427; naqal dari Min Ahsanil Kalam Fil Fatawa, Atiyyah Saqr, 2/23)
5. Malah ada pula yang berhujjah bahawa amalan sunat tidak boleh ditunaikan sebelum amalan fardu. Demikian menurut Syeikh Abu Raghib al-Asfahani, Syeikh Ihsan Muhammad 'Aayish al-'Utaibi dan juga di sebutkan oleh Dr Yusof Al-Qaradawi di dalam kitabnya Fiqh Awlawiyyat. Ini ada asasnya kerana berdasarkan hadith Nabi SAW
من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال فكأنما صام الدهر
Ertinya: "Barangsiapa telah berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan 6 hari dari dari Syawwal (puasa) maka ia adalah seperti (pahala) puasa ad-Dahr (setahun)" (Riwayat Al-Bukhari, no 6502).
6. Kita dapat melihat penggunaan ‘fe'il madhi' iaitu ‘past tense' bagi puasa Ramadan, mungkin sahaja boleh membawa makna sesiapa yang belum lengkap puasa Ramadannya perlulah melengkapkan dahulu, kemudian barulah mereka layak bagi mendapat peruntukan pahala sunat Syawwal.
7. Hujjah ulama yang mengharuskannya adalah hadith
" Sesungguhnya amalan itu berdasarkan kepada niat, dan bagi seseorang apa yang diniatkan." (Riwayat Bukhari, no 1, 1/12)
Ia dilihat agak umum, memang benar apa yang diniatkan adalah penting, tetapi niat mempunyai kaedah dan cara-caranya bagi diterima, contohnya seperti niat solat yang di cadangkan di dalam mazhab Syafie dimulakan semasa lafaz takbiratul ihram di sebut, jika tidak niat itu tidak dikira. (Rujuk Al-umm, hlm 78, cet Baytul Afkar; Rawdhah At-Tolibin, An-Nawawi, cet Baytul Afkar, hlm 103).
Justeru, niat juga ada displinnya dan tidak boleh dibuat sesuka hati di dalam ibadah.
Kesimpulan
Kesimpulan dalam yang mengutarakan perbincangan yang terbatas ini : Elok sangat tidak digabungkan dan elok sangat didahulukan yang wajib (qadha) daripada sunat (syawwal);
Pandangan yang membolehkan saya anggap sebagai rukhsah "keringanan" bagi mereka yang mempunyai kesukaran kerana uzur dan tidak mampu untuk mengasingkannya. Antara ulama yang membolehkan untuk menggabungkannya adalah beberapa ulama dari mazhab Syafie (Mughni al-Muhtaj, 1/602), Assembly of Muslim Jurists in America (AMJA), Syeikh Atiyyah Saqar, panelis fiqh Islam online.net dan beberapa yang lain.
Sekian
Zaharuddin Abd Rahman

Monday, August 13, 2012

Ramadhan bersama Huffaz....di Surau Taman Seri Serdang, Seri Kembangan


Ramadhan Bersama Huffaz : Betapa Di Hujung Dunia Ini Masih Ada Yang Peduli Palestin

serdang-01SERDANG, SELANGOR, 5 OGOS 2012 – Apabila Sheikh Mosab Ismail Haslimon dan rakan-rakannya buat pertama kali menjejakkan kaki di bumi Malaysia, beliau berbisik sayu kepada dirinya sendiri betapa di hujung dunia yang jaraknya ribuan batu ini ada masyarakat yang mengambil berat tentang permasalahan Palestin.
“Apabila aku pulang ke Palestin nanti, insyaAllah akan aku ceritakan kepada sahabat-sahabatku dan sanak-saudaraku bahawa saudara seIslamku di Malaysia sangat mengambil berat tentang Palestin,” janji beliau kepada para jemaah di Surau Al-Furqan, Taman Sri Serdang di sini ketika menyampaikan tazkirah sempena solat terawih. Terasa sebak di dada hadirin bila terdengar ungkapan ikhlas mujahid ini.
Beliau yang berasal dari Al-Khalil di Tebing Barat, iaitu tempat kelahiran dan pemakaman ramai para nabi dan anbiya, pernah menuntut di Universiti Al-Aqsa dan meraih segulung ijazah. Sepertimana ramai pemuda-pemuda Palestin lain yang menjadi mangsa kerakusan rejim Zionis, beliau pernah ditangkap dan dipenjara sebanyak empat kali, kali terakhir pada tahun 2004. Sedang beliau menjalani hukuman penjara untuk tempoh tujuh tahun, Sheikh Mosab dibebaskan pada tahun 2011 ekoran pertukaran tahanan melibatkan seorang askar pengganas Yahudi, Gilad Shalit.
serdang-02Sebahagian daripada ahli jemaah Surau Al-Furqan yang memberi tumpuan kepada tazkriah Sheikh Mosab.Dalam tazkirah beliau, Sheikh Mosab antara lain menegaskan, “kami di Palestin sentiasa hidup di dalam kesusahan dan kepahitan. Kerana apa? Ini tidak lain kerana Al-Aqsa.” Beliau mengulang-ulangi kata-kata tersebut sebanyak tiga kali, menunjukkan betapa pentingnya Al-Aqsa kepada kita semua umat Islam sehinggakan Allah menyebut Al-Aqsa secara terus di dalam Al-Quran melalui surah Al-Isra’.
Beliau menyedarkan para hadirin bahawa adalah menjadi tanggungjawab dan kewajipan semua umat Islam untuk membebaskan masjid yang mulia itu. “Hari ini Yahudi cuba menghancurkan Masjid Al-Aqsa. Kami, anak-anak, ahli keluarga bahkan orang-orang tua di Palestin terus menyerahkan diri, tenaga, harta benda dan apa sahaja yang kami ada demi mempertahankan tanah wakaf umat Islam ini, tanah wakaf anda semua,” kata beliau dengan penuh rendah diri. “Kami tetap akan berada dalam keadaan yang teguh untuk mempertahankannya, bukan dengan cara duduk di dalam istana atau kesenangan tetapi dengan jiwa, darah dan air mata kami.”

Menurut keterangan beliau, rakyat Gaza terpaksa bersolat terawih dalam keadaan gelap kerana bekalan tenaga elektrik dicatu di mana mereka hanya mendapat bekalan selama empat jam sehari. Pada masa yang sama, jet-jet pejuang serta drones Yahudi sentiasa berlegar-legar di udara dan melancarkan tembakan dan bom ke arah sesiapa sahaja mereka suka. Pemuda-pemuda dibunuh tanpa kesalahan dan anak-anak yang sedang bermain di luar rumah juga dibom tanpa usul periksa. “Begitulah kalau kita lihat keperitan saudara kita yang berada di Gaza hingga ke saat ini,” jelas beliau.
“Saya menyebut ini semua bukan untuk menceritakan kesusahan dan keperitan kami, tetapi adalah untuk memberitahu kesungguhan kami berada di barisan hadapan mempertahankan bumi Gaza dan seluruh Palestin supaya umat Islam di Malaysia mengambil pengiktibaran dengan apa yang berlaku dan tidak lalai terhadap nasib saudara mereka di Palestin,” terang beliau setelah bercerita panjang tentang keperitan hidup mereka.
serdang-03Sheikh Mosab (5 dari kanan) menyampaikan cenderahati kepada Setiausaha Surau Al-Furqan, Dr. Mohd Arif Abdul Manaf (4 dari kanan,) sambil bergambar kenangan.Berkenaan pengalaman beliau berada di dalam tahanan Zionis Yahudi, Sheikh Mosab yang enggan menceritakannya dengan lanjut berkata, “pasti anda tidak sanggup mendengarnya.” Beliau bagaimanapun sempat menceritakan bagaimana makanan yang disediakan dipenjara dicampur dengan bangkai tikus bahkan ada juga ketikanya makanan itu diracuni. Beliau juga menceritakan keperitan dipaksa duduk di atas kerusi tanpa penyandar selama tiga bulan sehingga seluruh badannya jatuh sakit.
“Apakah kita sanggup melihat ibu dan adik perempuan yang datang melawat kita dalam penjara ditanggalkan pakaian untuk diperiksa supaya tiada membawa senjata?,” tanya beliau ketika menggambarkan apa yang berlaku di penjara Israel sehingga ke saat ini. Bahkan ada rakyat Palestin yang ditangkap dan kemudannya diseksa dengan dipijak-pijak dada mereka sehingga retak tulang dada dan tidak diberikan ubat atau rawatan.
Mengakhiri tazkirah beliau, Sheikh Mosab berharap agar seluruh umat Islam terus membantu rakyat Palestin. “Di Gaza kami mendapat bekalan elektrik untuk hanya dua hingga empat jam sehari. Saya pernah lihat sendiri bagaimana seorang kanak-kanak mati kerana mesin oksigen tidak dapat berfungsi apabila bekalan elektrik terputus. Kami tidak cukup peralatan dan bekalan elektrik merawat anak itu, sehingga menangislah ibubapanya melihat anak mereka mati di hadapan mereka sendiri,” cerita beliau.
Alhamdulillah, program Ramadhan Bersama Huffaz di Surau Al-Furqan telah berjaya mengumpul dana bantuan untuk rakyat Palestin sebanyak RM3,539.51. Majlis telah diakhiri dengan penyampaian cenderahati oleh Sheikh Mosab kepada Setiausaha Surau Al-Furqan, Dr. Mohd Arif Abdul Manaf.

Semoga ahli kariah Surau Al-Furqan tidak akan putus-putus memanjatkan doa untuk rakyat Palestin. “Doa itu adalah senjata bagi orang mukmin, dan doa itu akan dapat menjadi pemangkin untuk kami terus berjuang di barisan hadapan membebaskan Masjid Al-Aqsa,” seru Sheikh Mosab.
Anda juga boleh menghulur sumbangan ikhlas untuk projek bantuan di Palestin melalui akaun-akaun berikut:
    Nama Akaun: Tabung Palestin HALUAN
    No Akaun - BIMB: 14-023-01-003429-2
    No Akaun - Maybank: 5644 9020 8528
---------
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...